Dari Maumere hingga Reo, Kepedulian Kapolda NTT untuk Flobamora di Tengah Gempa Flores

Dari Maumere hingga Reo, Kepedulian Kapolda NTT untuk Flobamora di Tengah Gempa Flores

Oleh Aipda Simeon Sion H. S. Kom

Gempa bumi 7,7 SR yang mengguncang Pulau Flores yang berpusat sekitar 30 kilometer di timur Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo, bukan hanya mengguncang tanah. Bencana ini juga memperlihatkan siapa pemimpin yang mampu membaca kegelisahan rakyat dan siapa yang benar-benar hadir ketika masyarakat membutuhkan perlindungan.

Dalam situasi bencana, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan berupa makanan, air minum, selimut maupun tenda. Mereka membutuhkan kehadiran pemimpin. Mereka membutuhkan keyakinan bahwa negara tidak meninggalkan mereka ketika rasa takut kembali muncul setiap kali gempa susulan terjadi.

Dalam konteks itulah, hemat penulis, Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) Irjen Pol. Dr. Rudy Darmoko, S.I.K., M.Si., layak mendapat apresiasi atas respons dan kepeduliannya terhadap masyarakat Flobamora.

Orang nomor satu di jajaran Polda NTT tersebut dalam hitungan jam telah berada di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, pasca gempa Sabtu (15/8/2026). Bersama Gubernur NTT Melkianus Laka Lena dan unsur Forkopimda Tingkat I, Kapolda turun melihat langsung kondisi masyarakat terdampak..

Tidak hanya melihat, Kapolda NTT juga menyalurkan 100 paket bantuan kepada warga terdampak di Mapolsek Alok, Kabupaten Sikka.

Bagi masyarakat yang sedang berada dalam suasana trauma, kehadiran seorang pemimpin memiliki nilai yang tidak dapat dihitung hanya dengan rupiah.

Sebab, ketika pemimpin datang langsung ke tengah masyarakat, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya bantuan fisik, tetapi juga rasa aman dan kepercayaan bahwa negara hadir.

Berlanjut ke Reo, Kabupaten Manggarai.

Kepedulian itu tidak berhenti di Maumere. Pada Senin, 17 Agustus 2026, perhatian terhadap masyarakat terdampak gempa juga diarahkan ke Reo, Kabupaten Manggarai.

Memang, dalam kesempatan tersebut Kapolda NTT tidak hadir secara langsung karena diwakili Karoops Polda NTT, Kombes Pol. Deonijiu De Fatima, S.I.K., S.H., dan diikuti oleh Asisten Logistik Kapolri, Irjen Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono, S.I.K., M.Si., serta Kapusdokkes Polri, Irjen Pol. Dr. dr. Asep Hendradiana, Sp.An-TI., Subsp.T.i(K), M.Kes., bersama sejumlah pejabat Polri lainnya, namun, bagi penulis, hal tersebut tetap memperlihatkan adanya kesinambungan perhatian terhadap wilayah terdampak.

Di tengah momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, ketika sebagian masyarakat mungkin merayakan kemerdekaan dengan penuh kegembiraan, sebagian saudara kita di Flores justru masih berhadapan dengan rasa takut, kerusakan dan ketidakpastian.

Karena itu, kehadiran negara di tengah mereka menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Di sinilah publik kemudian dapat melihat dan menilai sendiri bagaimana seorang pemimpin merespons kondisi masyarakatnya.

Kapolda NTT hadir dengan pendekatan yang menempatkan masyarakat sebagai pusat perhatian. Sementara di sisi lain, muncul sorotan terhadap representasi kepemimpinan daerah di Kabupaten Manggarai Timur, salah satu wilayah yang secara geografis relatif dekat dengan kawasan pusat gempa.

Kritik publik tentu perlu diarahkan bukan semata-mata kepada pakaian atau penampilan seorang pejabat, tetapi kepada seberapa jauh kehadiran dan respons kepemimpinan menjawab kebutuhan masyarakat di lapangan.

Ketika masyarakat menghadapi bencana, yang paling penting bukan bagaimana seorang pemimpin terlihat, melainkan apakah masyarakat merasakan bahwa pemimpinnya hadir, bergerak dan memahami keadaan mereka.

Apalagi jika melihat kondisi geografis Manggarai Timur yang memiliki wilayah luas dan sejumlah daerah yang akses infrastrukturnya masih menjadi tantangan.

Wilayah seperti Kecamatan Elar, Elar Selatan, Sambi Rampas, Congkar dan Lamba Leda membutuhkan perhatian serius dalam kondisi bencana, terutama apabila akses jalan menuju wilayah-wilayah tersebut terganggu.

Jangan sampai masyarakat di daerah terpencil menjadi kelompok terakhir yang menerima bantuan hanya karena persoalan akses.

Jangan Lupakan Mereka yang Jauh dari Pusat Kota

Bencana selalu memiliki wajah yang berbeda.

Masyarakat yang tinggal di pusat kota mungkin lebih cepat mendapatkan informasi, bantuan dan akses pelayanan. Tetapi masyarakat yang tinggal jauh di pedalaman menghadapi persoalan yang jauh lebih kompleks.

Jalan yang sulit dilalui, jaringan listrik yang belum menjangkau seluruh wilayah, cuaca yang sewaktu-waktu berubah menjadi hujan dan udara yang dingin merupakan persoalan yang harus diperhitungkan dalam penanganan pascabencana.

Dalam kondisi seperti itu, selimut dan tenda bukan sekadar perlengkapan bantuan.

Keduanya dapat menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat yang takut kembali masuk rumah akibat gempa susulan.

Apalagi gempa susulan yang terus terjadi dapat memperpanjang trauma masyarakat.

Setiap kali tanah kembali berguncang, pengalaman buruk saat gempa utama seakan kembali hadir dalam ingatan.

Karena itu, masyarakat membutuhkan tempat berlindung yang aman, penerangan, makanan, air bersih, selimut, tenda serta kepastian bahwa pemerintah terus memantau kondisi mereka.

Kapolda dan Pemahaman tentang Psikologi Sosial

Di sinilah kepemimpinan Kapolda NTT menjadi menarik untuk dilihat lebih jauh.

Kepeduliannya terhadap masyarakat Flobamora sesungguhnya bukan sesuatu yang baru muncul setelah gempa.

Perhatian tersebut sebelumnya juga terlihat melalui semangat ketahanan pangan, termasuk gerakan menanam jagung sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian masyarakat.

Semangat itu benar seperti yang dituangkan dalam buku berjudul “Tunas di Tanah Kering”, karya Bripka Simeon Sion H., S.Kom.

Pesan yang terkandung di dalamnya sederhana tetapi kuat: di tanah yang kering sekalipun, selalu ada kemungkinan untuk menumbuhkan kehidupan.

Begitu pula dalam menghadapi bencana.

Kapolda NTT tampaknya memahami bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan material. Mereka membutuhkan dukungan psikologis dan rasa bahwa mereka tidak sendirian.

Kehadiran pemimpin di tengah masyarakat yang sedang takut memiliki efek psikologis yang besar.

Ketika seorang pemimpin datang, melihat langsung kondisi warga, mendengar keluhan dan memastikan bantuan disalurkan, masyarakat mendapatkan pesan bahwa penderitaan mereka dilihat dan diperhatikan.

Itulah psikologi sosial dalam konteks kebencanaan: kehadiran negara dapat menjadi sumber kekuatan bagi masyarakat untuk bangkit.

Persatuan Diuji Ketika Saudara Mengalami Kesulitan

Gempa Flores akhirnya memberikan pelajaran penting tentang arti kepemimpinan.

Persatuan tidak diuji ketika semua orang berada dalam keadaan baik. 

Amanat Kapolda NTT dalam upacara 17 Agustus 2026 yang diabacakan inspektur upacara menarik disimak, ia mengajak sleuruh personil jajaran Polda NTT untuk memahami kemerdekaan sesungguhnya sesuai motto HUT RI ke-81 yaitu " Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju. " Merinci moto ini ia tekankan bahwa Persatuan bukan sekadar semboyan. Persatuan diuji ketika saudara kita sedang mengalami kesulitan. Ketika ada yang terkena bencana, kita hadir. Ketika ada yang berduka, kita kuatkan.

Karena itu, seluruh pemimpin di NTT, baik pemerintah maupun aparat keamanan, mempunyai tanggung jawab moral untuk memastikan tidak ada masyarakat yang luput dari perhatian, terutama mereka yang berada di wilayah terpencil dan sulit dijangkau.

Dari Maumere pada 15 Agustus hingga perhatian yang berlanjut ke Reo pada 17 Agustus, kepedulian Kapolda NTT menunjukkan bahwa kehadiran pemimpin di tengah masyarakat dapat menjadi kekuatan tersendiri.

Dan pada akhirnya, publik berhak menilai.

Bukan berdasarkan jas yang dikenakan.

Bukan berdasarkan jabatan yang disandang.

Tetapi berdasarkan seberapa cepat seorang pemimpin hadir ketika rakyatnya sedang takut, seberapa jauh ia memahami kebutuhan masyarakat, dan seberapa nyata tindakan yang dilakukan untuk meringankan penderitaan mereka.

Gempa boleh mengguncang bumi Flores, namun jangan sampai mereka yang berada di pedalaman ikut merasa bahwa mereka jauh dari perhatian negara.

Sebab dalam keadaan seperti ini, satu tenda dapat menjadi tempat berlindung, satu selimut dapat mengusir dingin, satu paket bantuan dapat meringankan beban, dan satu kehadiran pemimpin dapat mengembalikan harapan.

Flobamora tidak hanya membutuhkan pemimpin yang terlihat. Flobamora membutuhkan pemimpin yang hadir dan dirasakan kehadirannya.