SINOVAC SIMBOL RASA NASIONALISME PRESIDEN

SINOVAC SIMBOL RASA NASIONALISME PRESIDEN

 

TRIBRATANEWSKUPANG.   ---  Presiden telah disuntik Vaksin Sinovac pada Rabu 13 Januari 2021. Aksi simbolik ini menjawab keragu-raguan warga masyarakat Indonesia ditengah simpang siurnya pemberitaan terkait vaksin sinovac yang akan dipakai di Indonesia. Pemberlakuan ini atas Izin Penggunaan Darurat (emergency use authorization) vaksin Sinovac di Indonesia yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI setelah melihat imunogenisitas, keamanan, dan efikasinya  sesuai standar yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) bersama dua negara lainnya yaitu Brasil dan Turki.  Ada sedikit keraguan setelah melihat aksi presiden ini. Banyak pihak memuji keteladanan beliau selalu menjadi yang terdepan demi bangsa dan negaranya dan tak sedikit yang mencela bahwa aksi tersebut hanya pencitraan belaka.

Aburizal Bakrie dalam pidatonya pada hari ulang tahun Partai Golkar ke-51 tanggal 26 November 2015 di Jakarta pernah mengatakan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang paling cerewet dengan masalah-masalah sepele sehingga melupakan hal-hal yang penting demi kemaslahatan bangsa, benar adanya.   Bayangkan saja, semenjak rumor terkait bahan baku vaksin yang akan diimpor Cina untuk Indonesia, banyak cemoohan membanjiri jagat maya mengkritik kebijakan pemerintah. Tak hanya masyarakat bawah, para cendekiawan dan kaum terdidik pun ikut nyinyir dengan kebijakan ini.  Ironis memang, kritikan yang berbau melecehkan tersebut tidak diimbangi denngan kepatuhan menjalankan protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah.  Padahal anomie inilah yang membuat laju penyebaran Covid-19 di Indonesia tidak tertekan. Warga masyarakatnya bebas mengeritik pemerintah semaunya tanpa dalil yang menjadi acuan. Tak ayal, saking aktif nya menebar kritikan, rangking transportasi komunikasi warga net via media sosial menempati rating teratas berbagai platform  komunikasi dunia maya saat ini. Sebut saja facebook dan whats app, kedua aplikasi ini menempatkan Indonesia sebagai pengguna terbanyaknya.

Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Pemerintah tak pernah menoleh kebelakang menetapkan kebijakan yang ragu. Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 telah dimulai. Inilah bukti kepedulian pemerintah akan keselamatan warganya. Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Kesehatan telah menetapkan kebijakannya untuk melakukan vaksinasi terhadap warganya. Inilah langkah terakhir yang diambil pemerintah untuk menghentikan laju penyebaran virus ini.  Banyak pihak yang menolak kebijakan ini lantaran gagal paham karena sudah dicecoki oleh pemikiran kelompok-kelompok yang tidak bertanggungjawab. Dengan dalil undang-undang nomor  36  tahun 2009 tentang Kesehatan kelompok ini memprotes pemerintah telah melanggar hak asasi manusia tanpa memikirkan urgensi pandemi Covid-19 yang telah ditetapkan badan kesehatan dunia (WHO) sejak Maret 2020 yang lalu sebagai pandemi global. Undang-undang Kekarantinaan Kesehatan nomor 6 tahun 2018 mewajibkan semua warga dimasa wabah (virus Corona) wajib dilakukan vaksin tanpa kecuali. Kelompok ini juga masih ragu dengan mutu dan dampak vaksin Sinovac yang disediakan pemerintah. Mulai dari standarisasi pabrik hingga bahan-bahan pembuat vaksin tersebut. Perlu dipahami bahwa proses  sebuah vaksin hingga bisa digunakan manusia sudah melalui tahapan-tahapan yang tidak mudah. Ada tahap eksplorasi, tahap praklinis, uji klinis, hingga tahap produksi serta control mutu. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia menunjukkan bahwa Sinovac memiliki efikasi sebesar 65,3 persen dan sesuai standar yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Fakta ilmiah inilah yang bisa diyakini bahwa vaksin Sinovac  aman bagi siapapun yang menggunakannya. Dari sisi agamapun secara resmi Majelis Ulama Indonesia menerbitkan Fatwa MUI Nomor 02 tahun 2021 terkait kehalalan vaksin Covid-19 dan menyatakan Sinovac  Suci dan Halal dan boleh digunakan oleh umat Islam.

Berbahayakah Vaksin Sinovac bagi tubuh kita ?

Vaksin secara umum sudah terbukti tidak menyebabkan penyakit bawaan. Vaksin yang disuntikkan ke dalam tubuh manusia bermanfaat untuk mengajari sistem kekebalan tubuh sehingga ia bisa mengenal dan melawan infeksi penyakit. Demikianpun vaksin sinovac. Berdasarkan uji klinis vaksin sinovac mampu melawan infkesi virus Covid-19. Rasa sakit atau gejala lain yang timbul setelah divaksin memang membuat tubuh tidak nyaman dan itu bukan penanda adanya penyakit.  Itu adalah dampak atau respon umum tubuh terhadap masuknya vaksin yang biasa disebut efek samping. Keragu-raguan memang manusiawi terlepas dari kurangnya pemahaman kita terhadap platform yang digunakan untuk merancang atau membuat vaksin. Vaksin Sinovac menggunakan platform virus inaktif  yang biasa digunakan untuk merancang vaksin sebagaimana pembuatan vaksin lainnya. Lagian Sinovac ini sesuai dengan teknologi dan fasilitas yang ada di Indonesia. Pandangan awam kita sebagian besar tertuju pada anggapan bahwa vaksin yang disuntikan ke tubuh merupakan materi virus itu sendiri yang suatu saat akan bermutasi menjadi lebih ganas dan membahayakan kesehatan kita. Padahal virus inaktif dan yang telah dimodifikasi secara genetik sangat tidak berbahaya dan bersifat anti infeksi. Semua itu tidak akan mengubah sel tubuh manusia dan sekadar dihadirkan ke dalam tubuh sebagai pengenal, pembentuk memori, serta pemantik instruksi bagi tubuh untuk membangun kekebalan melawan virus Covid-19. Selain materi utama vaksin, ada bahan lain juga ditambahkan ke dalam vaksin dengan jumlah sangat sedikit yang fungsinya secara umum untuk menunjang mutu vaksin sehingga vaksin tetap stabil sehingga efektivitasnya tetap terjaga.

Siapkah anda divaksin ? Penulis beberapa hari yang lalu sudah divaksin Sinovac bersama beberapa orang lainnya dan puji Tuhan satupun vaksin tidak bergejala sama sekali apalagi sampai membahayakan kesehatan saya. Anak-anak saya sudah tiga orang dan semuanya baik-baik saja. Mereka cerdas dan tidak memiliki keterbelakangan mental atau gejala lainnya sebagai akibat dari genetik saya yang pernah disuntik vaksin.  

Kadang kita hanya memiliki rasa takut pada vaksin bukan pada virusnya. Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan yang sangat matang untuk melakukan vaksin pada masyarakatnya seperti yang diuraikan diatas tadi.

Hemat penulis, alangkah baiknya pihak terkait melakukan sosialisasi secara menyeluruh pada masyarakat agar tidak terjadi multi tafsir yang bisa membuat masyarakat itu menjadi takut akan vaksin dari pada virusnya.

Pihak terkait semestinya jangan membiarkan informasi sesat bebas beredar tetapi mesti harus disaring dengan menggalang berbagai macam tokoh atau para pakar demi menyambung lidah harapan pemerintah kepada masyarakat agar proseses vaksinasi Sinovac ini berhasil sehingga herd immunity kelompok segera terbentuk dan badai covid-19 segera berakhir menuju Indonesia sehat.

 

oleh Alberto Heru Ponato