Tim Ahli Media Sosial PT Ethos Kreatif Indonesia Beberkan Strategi Menjemput Algoritma Digital di Rakernis Humas Polda NTT 2026

Tim Ahli Media Sosial PT Ethos Kreatif Indonesia Beberkan Strategi Menjemput Algoritma Digital di Rakernis Humas Polda NTT 2026

Tribratanewskupang.com — Strategi penguatan komunikasi digital dan optimalisasi media sosial menjadi fokus utama dalam pelaksanaan Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Bidang Humas Polda NTT Tahun 2026 yang berlangsung di Hotel Sylvia Kupang, Selasa (19/5/2026).

Dalam kegiatan tersebut, peserta Rakernis mendapatkan materi dan diskusi khusus dari Erwin, Tim Ahli Media Sosial PT Ethos Kreatif Indonesia, bertajuk “Menjemput Algoritma NTT Penuh Kasih” yang membahas strategi membangun citra positif Polri di tengah derasnya arus informasi media sosial.

Dalam paparannya, Erwin menegaskan bahwa keberhasilan Polri di lapangan harus mampu diterjemahkan menjadi narasi digital yang kuat agar dapat diterima luas oleh masyarakat.

Ia mencontohkan keberhasilan Polda NTT dalam Operasi Ketupat Turangga 2026 yang berhasil menurunkan angka kecelakaan lalu lintas sebesar 2,5 persen serta angka kriminalitas sebesar 1,64 persen. Menurutnya, capaian tersebut tidak akan maksimal diketahui publik apabila tidak dioptimalkan melalui strategi algoritma media sosial.

“Keberhasilan di lapangan belum tentu sampai ke publik jika algoritma media sosial tidak dioptimasi,” ujar Erwin dalam sesi diskusi Rakernis.

Ia menjelaskan bahwa tantangan media sosial tahun 2026 semakin kompleks karena platform seperti Instagram, TikTok, dan Facebook kini lebih memprioritaskan konten dengan waktu tonton tinggi, tingkat penyimpanan dan pembagian ulang besar, serta interaksi cepat dalam satu jam pertama setelah dipublikasikan.

Sementara itu, platform Threads dan X lebih mendorong percakapan aktif dan komentar berkualitas dibanding sekadar jumlah tanda suka.

“Hoaks sering kali lebih cepat viral dibanding klarifikasi resmi apabila institusi terlambat merespons isu,” jelasnya.

Karena itu, menurut Erwin, strategi komunikasi “NTT Penuh Kasih” harus mampu memenangkan ruang digital melalui pendekatan empati, bukti nyata, dan interaksi aktif dengan masyarakat.

Dalam materinya, ia memperkenalkan konsep utama algoritma media sosial modern yang menekankan bahwa komunikasi digital institusi tidak cukup hanya menyampaikan informasi, tetapi harus membangun kedekatan emosional dengan publik.

“Kalau di lapangan algoritmanya data, strategi, dan pelayanan, maka di media sosial rumusnya adalah empati ditambah bukti dan interaksi,” ungkapnya.

Untuk mendukung strategi tersebut, Erwin menjelaskan konsep “4K NTT” yang menjadi fokus pengelolaan konten media sosial Polda NTT, yakni Kinerja, Kasih, Klarifikasi, dan Kolaborasi.

Konten kinerja diarahkan pada penyampaian data keberhasilan operasi dan pelayanan kepolisian melalui infografis singkat. Konten kasih menampilkan sisi humanis anggota Polri melalui video pendek yang menyentuh masyarakat.

Sementara konten klarifikasi ditujukan untuk menangkal hoaks secara cepat maksimal dalam waktu 1x24 jam, sedangkan konten kolaborasi dilakukan bersama tokoh masyarakat, tokoh agama, komunitas pemuda, hingga influencer lokal NTT.

Erwin juga menekankan pentingnya penggunaan format konten yang disukai algoritma media sosial tahun 2026, seperti video pendek vertikal berdurasi 15–30 detik, live streaming patroli, carousel edukasi, hingga video autentik berbasis aktivitas nyata anggota di lapangan.

Selain itu, konsistensi waktu unggahan dinilai sangat penting. Konten dianjurkan dipublikasikan pada jam aktif masyarakat seperti pagi hari sebelum bekerja, jam istirahat siang, dan malam hari saat prime time media sosial.

Dalam sesi diskusi, peserta Rakernis juga diajak memahami pentingnya membangun interaksi aktif dengan masyarakat melalui penggunaan bahasa lokal NTT seperti “beta”, “kaka”, atau “karmana” agar lebih dekat dengan audiens.

Tak hanya itu, strategi mitigasi hoaks dan antisipasi shadowban media sosial juga menjadi perhatian penting. Erwin mengingatkan agar akun institusi menghindari pola komunikasi yang terlalu kaku dan lebih mengedepankan pendekatan edukatif serta humanis.

Ia juga mendorong optimalisasi mesin pencari atau search engine agar narasi positif terkait Polri mudah ditemukan masyarakat melalui Google maupun platform media sosial lainnya.

Menurutnya, indikator keberhasilan komunikasi digital saat ini tidak lagi hanya diukur dari jumlah tanda suka, tetapi juga tingkat penyimpanan konten, jumlah pembagian ulang, sentimen komentar, hingga meningkatnya interaksi dan laporan masyarakat melalui media sosial.

Menutup materinya, Erwin mengingatkan bahwa media sosial kini menjadi ruang strategis dalam membangun legitimasi dan kepercayaan publik terhadap institusi Polri.

“Algoritma tidak punya hati. Tugas kita mengisi algoritma dengan cerita ‘NTT Penuh Kasih’ agar yang sampai ke handphone masyarakat adalah rasa aman,” pungkasnya.

#PoldaNttPenuhKasih