Polsek Takari Respons Cepat Laporan Penemuan Mayat di Hutan Nonmeto

Polsek Takari Respons Cepat Laporan Penemuan Mayat di Hutan Nonmeto

KUPANG, TBN – Jajaran Polsek Takari, Polres Kupang bergerak cepat melakukan penanganan dan penyelidikan awal terkait penemuan mayat seorang pria lanjut usia bernama Petrus Nomtanis di kawasan Hutan Nonmeto, RT 009/RW 004, Kelurahan Takari, Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang, Jumat (9/10/2026) pagi.

Korban yang diperkirakan berusia 70-an tahun tersebut ditemukan sekitar pukul 08.00 WITA oleh seorang warga bernama Dim Nabuasa saat mencari kambingnya yang hilang di sekitar hutan.

Saat ditemukan, kondisi tubuh korban sudah tidak utuh. Bagian kepala terpisah dari tubuh dengan jarak sekitar dua meter, sedangkan kedua kaki korban juga mengalami kerusakan yang diduga akibat gigitan binatang.

Mengetahui kejadian tersebut, saksi segera memberitahukan penemuan itu kepada warga lainnya. Bersama masyarakat setempat, saksi kemudian kembali ke lokasi untuk memastikan identitas korban yang diketahui bernama Petrus Nomtanis, warga RT 009/RW 004, Kelurahan Takari.

Informasi penemuan mayat tersebut selanjutnya diteruskan kepada pihak Polsek Takari sekitar pukul 09.30 WITA melalui Ketua RW setempat.

Menindaklanjuti laporan itu, Kapolsek Takari bersama Kanit Reskrim dan anggota piket mendatangi tempat kejadian perkara (TKP). Petugas medis dari Puskesmas Takari juga dikerahkan untuk melakukan pemeriksaan terhadap korban.

Sekitar pukul 11.00 WITA, anggota Polsek Takari bersama petugas medis dan warga mengevakuasi jenazah ke rumah korban yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi penemuan.

Petugas medis Puskesmas Takari, Apolos Utan dan Arlianti Bana, kemudian melakukan pemeriksaan luar terhadap jenazah sekitar pukul 11.10 WITA.

Berdasarkan keterangan keluarga, korban diketahui memiliki riwayat penyakit asma selama kurang lebih dua tahun dan kerap mengalami kekambuhan. Namun, korban disebut tidak pernah menjalani pengobatan di Puskesmas Takari.

Dari hasil pemeriksaan luar dan keterangan yang diperoleh, petugas medis memperkirakan korban telah meninggal dunia sekitar empat hingga lima hari sebelum ditemukan. Kondisi kepala dan bagian kaki yang tidak utuh diduga berkaitan dengan aktivitas binatang, mengingat ditemukan pula tanda-tanda gigitan pada tubuh korban.

Meski demikian, penyebab pasti kematian korban tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan pemeriksaan luar tersebut.

Pihak keluarga menyatakan menerima kejadian itu sebagai musibah dan menolak dilakukan autopsi. Penolakan tersebut dituangkan dalam surat pernyataan yang dibuat oleh keluarga korban.

Semasa hidupnya, Petrus diketahui tidak memiliki istri maupun anak. Korban tinggal seorang diri di rumah kebun yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari rumah tetangga terdekat.

Sebelum penemuan tersebut, korban terakhir kali diketahui berada di rumah keponakannya pada Sabtu (3/10/2026) sekitar pukul 18.30 WITA untuk mengisi daya senter. Korban kemudian bermalam di rumah tersebut dan kembali ke rumahnya pada Minggu (4/10/2026) sekitar pukul 17.00 WITA.

Pada Rabu (7/10/2026), salah seorang anggota keluarga sempat mendatangi rumah korban untuk memetik asam. Namun, saat itu korban tidak ditemukan di rumahnya.

Dalam penanganan kejadian ini, Polsek Takari telah menerima laporan, menghubungi petugas medis, mendatangi TKP, serta mengumpulkan bahan keterangan dari sejumlah saksi dan masyarakat setempat.

Dari keterangan warga yang dihimpun, korban diketahui tidak pernah terlibat persoalan, baik dengan keluarga maupun orang lain, semasa hidupnya.

Pihak kepolisian masih melakukan penanganan sesuai prosedur terhadap peristiwa penemuan mayat tersebut. Hingga kini, dugaan mengenai penyebab kematian korban perlu dibedakan dari hasil pemeriksaan medis yang telah dilakukan, sementara pemeriksaan luar belum dapat memastikan penyebab kematian secara definitif.#Ss+